Curhat Seorang Istri yang Terpaksa Menghindari Banyak Orang Karena Lelah Ditanya Soal Momongan

Posted on

Memiliki momongan menjadi sebuah harapan tertinggi bagi semua pasangan yang telah melakukan pernikahan. Namun, perkara memiliki momongan bukan hanya ditentukan oleh kedua pasangan suami istri melainkan ada takdir tuhan juga yang memiliki andil besar di dalamnya.

Meski demikian, tidak jarang orang-orang di sekitar kita cenderung “kepo” ketika melihat wanita menikah yang belum dikaruniai seorang anak. Rasa penasaran mereka kerap muncul dalam sebentuk pertanyaan menyakitkan bagi pasangan yang belum memiliki keturunan, “kapan punya momongan.”

Berikut ini kami memiliki sebuah kisah tentang seorang istri yang lelah ditanya kapan punya momongan oleh orang-orang disekitarnya.

Kisah nyata seorang istri ini menyuarakan isi hati banyak wanita yang belum memiliki momongan. Kadang orang-orang di sekitar seenaknya saja mencibir dan menyindir. Padahal mereka tak pernah tahu isi hati kita yang sebenarnya.

Aku adalah seorang istri dari suami yang begitu penyayang. Alhamdulillah usia pernikahan kami sudah memasuki tahun ketiga. Sampai saat ini kami masih terus berusaha dan berdoa agar segera diberi momongan. Tapi manusia hanya bisa berdoa dan berusaha, yang menentukan segalanya adalah Tuhan.

Siapa yang lebih menginginkan keturunan selain kami sendiri? Tidak ada. Kami lebih lebih menginginkannya daripada orang lain. Tapi kembali lagi ke kodrat manusia. Selalu ingin tahu tentang keadaan orang lain. Kapan punya anak? 

Pertanyaan itu ingin sekali kujawab tegas, “Aku mau, sangat mau, tapi bagaimana lagi kalau memang belum takdirku sekarang untuk punya anak?” Tapi aku tak bisa, aku hanya tersenyum dan menjawab, “Doakan saja.” Ah, lelah.

Sampai saat ini aku menjadi takut untuk hanya sekedar ikut acara arisan, pengajian atau bahkan berbelanja di tukang sayur hanya untuk menghindari pertanyaan tadi. Tidak bisakah mereka mengerti dan berhenti bertanya tentang hal itu. Hal yang seharusnya mereka pahami bahwa aku tentu lebih menginginkannya daripada mereka yang hanya bisa bertanya saja.

Di sini aku menulis cerita ini untuk memberi kalian semua semangat bagi yang belum memiliki keturunan. Kita ingin. Kita bisa. Kita pasti bisa dan punya. Hanya saja Tuhan masih mencarikan kita waktu yang tepat, waktu yang Ia pikir kita sudah sangat siap untuk diberi kepercayaan itu, karena anak hanyalah kepercayaan yang Tuhan titipkan untuk yang sudah sanggup, sudah bisa. 

Mungkin kita harus lebih berusaha dan berdoa lebih banyak agar Tuhan memberi kita kesempatan itu.

Semoga masyarakat kita tidak hanya menggunakan bibirnya saat menanyakan pertanyaan basa-basi “Kapan Punya Anak” pada pasangan yang belum dikaruniai momongan, melainkan bisa menggunakan hatinya juga. Semangat Mom’s.

Sumber: www.vemale.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.